MAJALAHUKUM.COM, BALI – Suara mahasiswa dan elemen masyarakat kembali menggema dalam aksi penyampaian aspirasi yang terekam melalui dokumentasi foto dan video yang diterima redaksi. Dalam barisan massa, tampak spanduk besar bertuliskan “Negara ini arahnya kemana ya wok?” serta seruan “Bersama Rakyat Bali Kami Full Melawan”.
Aksi tersebut menjadi gambaran kegelisahan kaum muda terhadap arah kebijakan negara yang dinilai perlu dikawal lebih serius. Massa membawa poster dan spanduk sebagai bentuk ekspresi demokratis. Bagi mahasiswa, suara rakyat tidak boleh dipandang sebagai gangguan, melainkan koreksi moral terhadap jalannya pemerintahan.
Ketua BEM I Gusti Agung Ngurah Oka Paramahamsa, yang akrab disapa Gung Pram, menyampaikan bahwa gerakan mahasiswa tidak lahir dari kemarahan tanpa arah. Menurutnya, kehadiran mahasiswa di tengah rakyat merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga demokrasi, hukum, dan masa depan bangsa.
“Kami turun bukan untuk membuat gaduh. Kami turun karena masih percaya bahwa negara ini harus dikawal oleh suara rakyat. Ketika kebijakan makin jauh dari rasa keadilan, mahasiswa tidak boleh diam,” ujar Gung Pram.
Dalam pernyataannya, Gung Pram menegaskan bahwa gerakan mahasiswa bersama rakyat Bali akan tetap dilakukan secara tertib, bermartabat, dan bertanggung jawab. Ia menilai kritik mahasiswa harus diposisikan sebagai bagian dari demokrasi yang sehat, bukan sebagai ancaman terhadap kekuasaan.
“Bersama rakyat Bali, kami full melawan segala bentuk kebijakan yang menindas, pembungkaman aspirasi, pelemahan supremasi hukum, serta segala tindakan yang menjauhkan negara dari rasa keadilan. Perlawanan ini adalah perlawanan moral, bukan perlawanan tanpa arah,” tegasnya.
Gung Pram juga mengajak mahasiswa, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat agar tidak mudah terpecah. Ia menekankan pentingnya solidaritas, data, sikap yang jelas, serta keberanian menyampaikan kebenaran secara damai dan konstitusional.
“Kita ingin negara ini berjalan pada rel konstitusi. Hukum harus berpihak pada keadilan, kebijakan harus berpihak kepada rakyat, dan kekuasaan harus selalu dapat dikritik. Itulah alasan mahasiswa tetap berdiri di garis depan bersama rakyat,” katanya.
Menurut Gung Pram, pertanyaan rakyat tentang arah negara bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan kegelisahan yang harus dijawab pengambil kebijakan melalui tindakan nyata. Ia menyebut mahasiswa akan terus mengawal agar ruang demokrasi tidak dipersempit dan suara rakyat tidak dianggap sebagai gangguan.
Aksi dan seruan mahasiswa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat merupakan hak warga negara yang harus dihormati selama dilakukan secara tertib dan bertanggung jawab. Redaksi Majalahukum.com akan terus mengikuti perkembangan aspirasi masyarakat yang menyangkut kepentingan publik, demokrasi, supremasi hukum, dan keadilan sosial. (Red)








