Beranda Aktual ACEH MENGGELIAT, REINKARNASI GAM?

ACEH MENGGELIAT, REINKARNASI GAM?

0

Seorang adik, baik dari usia maupun masa bakti di dunia jurnalistik, mengirim pesan WhatsApp kepada saya. Untuk kenyamanan berkomunikasi, namanya saya singkat saja: TP.

Ia meminta saya menganalisis geliat yang terjadi di Aceh belakangan ini. Saya pun mencoba menyelusuri “Google politik”, dengan sebuah pertanyaan sederhana:
Apakah GAM sedang reborn? Apakah Gerakan Aceh Merdeka mengalami reinkarnasi?

Dalam hitungan detik, “Mbah Google” memberikan jawaban: belum ada indikasi yang cukup untuk menyebut GAM bangkit kembali sebagai gerakan separatis.

Yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lebih tepat dibaca sebagai gesekan politik dan sosial yang muncul dalam momentum peringatan 21 tahun perdamaian Helsinki, bukan sebagai bukti bahwa GAM telah lahir kembali.

Perlu diluruskan pula, tahun 2026 adalah 21 tahun, bukan 25 tahun, karena MoU Helsinki ditandatangani pada 15 Agustus 2005.

Kericuhan di Banda Aceh bermula ketika sejumlah orang berupaya mengibarkan bendera bulan bintang, yang secara historis memang identik dengan Gerakan Aceh Merdeka. Aparat kemudian berusaha mencegah pengibaran tersebut hingga terjadi ketegangan dan benturan.

Pertanyaannya kemudian:
Apakah pengibaran bendera tersebut otomatis berarti GAM bangkit kembali?
Saya kira belum tentu.

Simbol politik bisa memiliki makna sejarah yang panjang. Ia bisa menjadi lambang perjuangan, identitas, nostalgia, bahkan ekspresi kekecewaan. Tetapi simbol tidak dengan sendirinya membuktikan adanya organisasi separatis yang telah kembali bergerak.

Justru menariknya, tokoh perdamaian Aceh dan salah seorang negosiator Helsinki, Juha Christensen, mengingatkan bahwa bendera GAM sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari sejarah, bukan digunakan untuk kepentingan lain.

Ada satu hal yang sering terlupakan.
MoU Helsinki memang memberikan ruang bagi Aceh untuk menggunakan simbol-simbol wilayah, termasuk bendera, lambang dan himne.
Namun, persoalan bentuk dan legalitas bendera Aceh kemudian menjadi masalah tersendiri yang bertahun-tahun belum benar-benar menemukan titik temu.

Di sisi lain, MoU Helsinki juga menandai berakhirnya konflik bersenjata. GAM melakukan demobilisasi, menyerahkan senjata, dan mengakhiri aksi kekerasan.
Karena itu, menurut saya, kita harus berhati-hati menggunakan istilah “GAM Reborn”.
Jangan sampai sebuah insiden simbolik langsung ditafsirkan sebagai kebangkitan gerakan separatis.

Dua puluh satu tahun setelah Helsinki, bisa saja masih terdapat kekecewaan, persoalan ekonomi, ketimpangan, politik lokal, ekspektasi terhadap otonomi khusus, maupun perasaan bahwa sebagian janji perdamaian belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Di sinilah saya melihat makna penting dari “geliat” Aceh.

Yang menggeliat belum tentu GAM. Bisa jadi yang menggeliat adalah ingatan sejarah, kekecewaan sosial, identitas politik dan harapan masyarakat Aceh terhadap masa depan daerahnya.
Itulah yang harus dibaca dengan kepala dingin.
Perdamaian Helsinki adalah sebuah pencapaian besar.
Jangan sampai perdamaian yang telah berlangsung lebih dari dua dekade rusak hanya karena kegagalan kita mengelola simbol, emosi dan perbedaan politik.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang memiliki peran penting dalam proses perdamaian Aceh, juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengorbankan kemajuan yang telah dicapai selama dua dekade perdamaian.

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah pun menyerukan agar seluruh masyarakat menjaga perdamaian karena, menurutnya, tidak ada keuntungan dari keributan.
Maka, kalau TP bertanya kepada saya:
“Apakah GAM akan reborn?”
Jawaban saya:
Belum ada alasan kuat untuk mengatakan demikian.
Tetapi kalau pertanyaannya:
“Apakah masih ada bara persoalan yang sesekali menyala di Aceh?”

Saya akan menjawab:
Bisa jadi. Dan bara itulah yang harus dibaca, bukan disiram dengan bensin, tetapi diselesaikan dengan dialog.
Sebab Aceh sudah pernah membayar sangat mahal harga sebuah konflik.

Jangan sampai generasi berikutnya hanya mewarisi bendera dan luka, sementara semangat perdamaian Helsinki justru dilupakan.
Jadi, TP, begitulah kira-kira jawaban saya kepada adik dan teman wartawan.
Begitu kata Mbah Google, Sin!

Terima kasih atas komentar Anda. Ikuti terus update portal ini.