Judul tersebut muncul saat saya berdiskusi kecil dengan seorang Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) di kampung saya sendiri, tepatnya di Dukuh Jagalempeni Selatan, Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.
Dukuh tersebut memiliki satu lembaga pendidikan MI, dua Madrasah Diniyah, dua Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan satu SMP yang baru berdiri.
Mendiskusikan lembaga pendidikan tentu memiliki banyak varian dan sudut pandang yang dapat dibahas melalui berbagai pendekatan teori. Persoalan pendidikan juga tidak pernah habis dikaji dan ditulis dalam berbagai karya ilmiah akademik, mulai dari skripsi, tesis hingga disertasi.
Oleh karena itu, menggali persoalan pendidikan tidak akan pernah berhenti. Sebab, pendidikan pada hakikatnya merupakan kebutuhan manusia sepanjang hayat.
Manusia sebagai bagian dari masyarakat memiliki kepentingan terhadap pendidikan, terutama pendidikan bagi anak-anaknya. Karena itu, ketika berbicara tentang kepentingan pendidikan, kita tidak dapat melepaskannya dari pilihan dan alasan seseorang dalam menentukan lembaga pendidikan.
Keputusan orang tua dalam menjatuhkan pilihan kepada lembaga pendidikan tertentu tentu tidak muncul begitu saja. Ada berbagai latar belakang sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, bahkan pengalaman yang turut memengaruhi keputusan tersebut.
Pilihan masyarakat terhadap lembaga pendidikan untuk anak-anaknya pada jenjang MI/SD tentu memiliki pertimbangan yang berbeda dengan pilihan pada jenjang SMP/MTs maupun SMA/MA/SMK. Meskipun demikian, terdapat satu prinsip yang relatif sama, yaitu keinginan memperoleh lembaga pendidikan yang berkualitas.
Namun, pada praktiknya, terdapat sejumlah faktor sosiologis yang memengaruhi pilihan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.
Masyarakat kelas menengah ke bawah, baik dari sisi pendidikan maupun ekonomi, dalam kondisi tertentu cenderung memilih lembaga pendidikan yang biayanya relatif murah. Pertimbangan biaya terkadang lebih dominan dibandingkan pertimbangan kualitas pendidikan.
Sebaliknya, masyarakat kelas menengah ke atas cenderung lebih mempertimbangkan kualitas lembaga pendidikan, meskipun harus mengeluarkan biaya yang lebih besar.
SPMB dan Persaingan Mendapatkan Peserta Didik
Pada saat yang sama, lembaga pendidikan juga melakukan berbagai strategi dalam menghadapi Seleksi/Penerimaan Murid Baru (SPMB). Berbagai program ditawarkan untuk menarik minat calon peserta didik dan orang tua.
Di tingkat SD/MI, misalnya, sudah menjadi fenomena yang umum ketika lembaga pendidikan menawarkan berbagai program maupun fasilitas yang dianggap menarik. Bahkan, dalam beberapa kasus, pihak sekolah atau madrasah menugaskan seseorang untuk mendatangi langsung calon orang tua murid.
Akibatnya, muncul kesan bahwa proses mencari peserta didik baru tidak jauh berbeda dengan kampanye politik: masing-masing lembaga berusaha memperkenalkan program dan keunggulannya untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan lembaga pendidikan yang sudah memiliki reputasi dan kualitas yang diakui masyarakat.
Lembaga pendidikan yang sudah bonafide justru tidak selalu harus melakukan kampanye secara besar-besaran. Bahkan, dalam kondisi tertentu, lembaga tersebut dapat menolak calon peserta didik atau menempatkannya sebagai peserta cadangan karena jumlah pendaftar melebihi kapasitas yang tersedia.
Fenomena seperti ini banyak terjadi pada jenjang MTs/SMP dan SMA/SMK/MA. Tidak sedikit orang tua yang rela mengeluarkan biaya dan menempuh berbagai konsekuensi agar anaknya dapat diterima di lembaga pendidikan yang dianggap berkualitas.
Di tingkat SD/MI, keberadaan lebih dari satu lembaga pendidikan dalam satu desa tentu melahirkan kompetisi dalam mendapatkan peserta didik baru.
Di sinilah persoalan menjadi menarik. Lembaga pendidikan yang memiliki modal promosi dan program menarik akan lebih mudah memperkenalkan dirinya kepada masyarakat. Sebaliknya, lembaga pendidikan yang memiliki keterbatasan dalam melakukan promosi bisa saja mendapatkan peserta didik dalam jumlah seadanya.
Strategi promosi menjelang penerimaan murid baru pun semakin beragam. Ada lembaga yang mengedepankan program unggulan, prestasi, kualitas guru, fasilitas, hingga berbagai bentuk apresiasi atau pemberian tertentu kepada calon peserta didik.
Pada titik inilah masyarakat kemudian memiliki pilihan berdasarkan pertimbangan masing-masing.
Ada masyarakat yang memilih lembaga pendidikan karena mendapatkan sesuatu yang ditawarkan, tanpa terlalu mempertimbangkan kualitas pendidikan secara mendalam. Bahkan, faktor jarak antara rumah dan sekolah terkadang bukan lagi persoalan.
Di sisi lain, terdapat masyarakat yang lebih mengutamakan kualitas lembaga pendidikan. Mereka tidak terlalu memperdulikan ada atau tidaknya pemberian tertentu. Yang menjadi pertimbangan utama adalah kualitas guru, proses pembelajaran, lingkungan pendidikan, prestasi, karakter peserta didik, serta masa depan anak.
Fenomena tersebut sebenarnya hanya bagian kecil dari dinamika dunia pendidikan, khususnya menjelang SPMB. Namun, fenomena tersebut menarik untuk dicermati karena pilihan masyarakat terhadap lembaga pendidikan terus mengalami perubahan.
Perkembangan tingkat pendidikan masyarakat turut berpengaruh terhadap cara orang tua menentukan pilihan. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan wawasan masyarakat, idealnya semakin rasional pula pertimbangan dalam memilih lembaga pendidikan.
Di saat yang sama, perkembangan teknologi informasi, ilmu pengetahuan, kondisi ekonomi, dan perubahan budaya juga menuntut lembaga pendidikan untuk terus berbenah.
Lembaga pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan promosi dan strategi mendapatkan peserta didik baru. Lebih dari itu, lembaga pendidikan harus mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan bukan hanya diukur dari seberapa banyak peserta didik yang berhasil direkrut setiap tahun, tetapi juga dari seberapa baik lembaga tersebut mendidik, membentuk karakter, mengembangkan kompetensi, dan mengantarkan peserta didiknya menjadi manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman.
Sebab, masyarakat pada akhirnya akan belajar membedakan antara lembaga pendidikan yang sekadar pandai mencari peserta didik dan lembaga pendidikan yang benar-benar mampu memberikan pendidikan.
Dan ketika pilihan masyarakat semakin rasional, kualitas seharusnya menjadi modal utama sebuah lembaga pendidikan untuk tetap dipercaya. ***








