Beranda Aktual Retak dalam Rumah: Ketika Orang Tua Terjebak Pilih Kasih

Retak dalam Rumah: Ketika Orang Tua Terjebak Pilih Kasih

0

Pernahkah kita tanpa sadar memuji si sulung setinggi langit di depan adik-adiknya? Atau sebaliknya, selalu memaklumi kesalahan si bungsu hanya karena ia anak paling kecil?

Dalam dunia psikologi, fenomena tersebut dikenal sebagai Parental Differential Treatment (PDT), yaitu pola perlakuan berbeda dari orang tua terhadap anak-anaknya, baik dalam kasih sayang, perhatian, maupun penerapan disiplin. Ironisnya, perlakuan semacam ini sering terjadi tanpa disadari dan perlahan dapat menciptakan luka dalam hubungan antaranak maupun antara anak dan orang tua.

Jika fenomena ini dilihat dari perspektif teori Behaviorisme yang dikembangkan antara lain oleh Ivan Pavlov dan John B. Watson, setiap perilaku dapat dipahami sebagai respons terhadap stimulus tertentu. Dalam formula S-R (Stimulus-Response), sikap pilih kasih tidak muncul begitu saja. Ada pemicu yang membentuk respons orang tua terhadap masing-masing anak.

Setidaknya terdapat tiga faktor yang dapat membuka ruang munculnya perlakuan berbeda di dalam keluarga.

  1. Cerminan Diri dan Beban Psikologis Orang Tua

Akar pertama bisa berasal dari dalam diri orang tua. Tekanan hidup, stres, persoalan ekonomi, pengalaman masa lalu, hingga trauma yang belum terselesaikan dapat memengaruhi cara orang tua memperlakukan anak.

Secara psikologis, seseorang cenderung lebih mudah merasa dekat dengan sosok yang memiliki kemiripan karakter, wajah, minat, maupun prestasi dengan dirinya. Akibatnya, anak yang dianggap paling “mirip” dengan orang tua dapat memperoleh perhatian lebih besar tanpa disadari.

Jika tidak dikendalikan, kedekatan tersebut dapat berkembang menjadi perlakuan istimewa yang dirasakan berbeda oleh anak-anak lainnya.

  1. Jebakan Stereotip Urutan Kelahiran

Masyarakat masih sering memegang stereotip mengenai urutan kelahiran. Anak bungsu, misalnya, kerap dianggap sebagai anak yang harus dimanja, dilindungi, dan dituruti karena dianggap paling kecil dan paling rentan.

Sebaliknya, anak sulung sering diberi beban sebagai teladan, kebanggaan, bahkan “investasi” keluarga. Mereka dituntut untuk lebih dewasa, kuat, mandiri, dan berhasil.

Alfred Adler dalam teori urutan kelahiran menjelaskan bahwa posisi anak dalam keluarga dapat memengaruhi pengalaman psikologis dan pola relasinya. Anak sulung, misalnya, pada awal kehidupannya menikmati perhatian penuh dari orang tua sebelum kelahiran adik. Setelah adik hadir, tuntutan dan perannya pun dapat berubah.

Di tengah situasi tersebut, anak tengah terkadang merasa berada di posisi yang kurang mendapatkan perhatian: tidak lagi menjadi anak pertama yang dibanggakan, tetapi juga tidak memperoleh kemanjaan seperti anak bungsu.

Namun demikian, stereotip urutan kelahiran tidak boleh dijadikan alasan untuk memperlakukan anak secara tidak adil. Setiap anak tetap memiliki kebutuhan emosional yang berbeda.

  1. Karakteristik dan Kebutuhan Khusus Anak

Setiap anak memiliki karakter, kepribadian, kemampuan, serta kebutuhan yang berbeda. Anak yang sering sakit atau memiliki kebutuhan khusus tentu membutuhkan perhatian, waktu, energi, bahkan biaya yang lebih besar dari orang tua.

Perhatian ekstra tersebut sebenarnya merupakan bentuk kebutuhan yang wajar. Persoalan muncul ketika anak-anak lain tidak mendapatkan penjelasan dan perhatian emosional yang memadai.

Anak yang terlihat “baik-baik saja” justru bisa merasa bahwa dirinya tidak diperhatikan karena orang tua lebih banyak mencurahkan energi kepada saudaranya.

Karena itu, keadilan dalam keluarga tidak selalu berarti memberikan sesuatu dalam jumlah yang sama. Keadilan lebih tepat dimaknai sebagai memberikan perhatian sesuai kebutuhan masing-masing anak, tanpa membuat anak lainnya merasa kurang dicintai.

Ketika Kasih Sayang Menjadi Arena Kompetisi

Sebagai orang tua yang anak-anaknya kini telah beranjak dewasa, saya harus jujur mengakui bahwa menghindari jebakan pilih kasih bukan perkara mudah.

Memperlakukan anak secara adil, baik laki-laki maupun perempuan, sulung hingga bungsu, merupakan perjuangan yang membutuhkan kesadaran dan evaluasi diri terus-menerus. Bahkan, seketat apa pun kita berusaha menjaga keseimbangan, protes, “Ayah/Ibu berat sebelah!” terkadang tetap terdengar.

Dalam institusi keluarga, pilih kasih dapat mengganggu keseimbangan hubungan. Ketika satu anak terlalu diistimewakan, anak lain berpotensi merasa tersisih. Jika dibiarkan, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman justru berubah menjadi arena kompetisi.

Kasih sayang akhirnya dipersepsikan seperti sebuah “piala” yang harus diperebutkan.

Dampaknya terhadap perkembangan psikologis anak pun tidak sederhana. Anak yang merasa diabaikan dapat mengalami rendah diri, kecemasan, kesulitan mempercayai orang lain, dan masalah dalam membangun hubungan ketika dewasa. Sebaliknya, anak yang selalu diunggulkan juga dapat mengalami persoalan lain, seperti kesulitan menerima kritik, merasa selalu benar, atau kurang terbiasa menghadapi kekecewaan dan menjadi mandiri.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko sibling rivalry atau persaingan antarsaudara yang tidak sehat.

Memutus Rantai Pilih Kasih

Memutus rantai pilih kasih membutuhkan kebesaran hati dari orang tua untuk terus melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.

Orang tua tidak harus menjadi sempurna. Yang jauh lebih penting adalah bersedia menyadari ketika ada perlakuan yang mungkin membuat salah satu anak merasa tersisih, kemudian memperbaikinya.

Anak-anak tidak selalu membutuhkan perlakuan yang persis sama. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa meskipun memiliki karakter, prestasi, dan kebutuhan yang berbeda, cinta orang tuanya tidak pernah dibedakan.

Semoga setiap orang tua senantiasa dimampukan untuk membagi kasih sayangnya dengan bijaksana dan adil, sehingga mampu mengantarkan anak-anak menuju gerbang kesuksesan yang penuh keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Aamiin.

Terima kasih atas komentar Anda. Ikuti terus update portal ini.