Beranda Aktual OMI 2026 Digelar di 281 Titik, Kemenag Jabar Matangkan Kesiapan Talenta Madrasah

OMI 2026 Digelar di 281 Titik, Kemenag Jabar Matangkan Kesiapan Talenta Madrasah

0

BANDUNG (Majalahukum.com) – Sebanyak 281 titik lokasi (tilok) di Jawa Barat disiapkan untuk pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat kabupaten/kota Tahun 2026. Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Barat pun mematangkan kesiapan perangkat, petugas, hingga sarana pendukung agar kompetisi yang digelar secara daring tersebut berjalan tanpa kendala teknis.

Persiapan itu dibahas dalam Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan OMI yang digelar secara daring, Minggu (6/9/2026). Rakor diikuti para Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kabupaten/Kota se-Jawa Barat bersama tim teknis OMI.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6843 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia Tahun 2026.

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, H. Badruzaman, menegaskan OMI tidak boleh dipandang sebatas ajang perebutan juara. Lebih dari itu, OMI menjadi instrumen strategis untuk menemukan dan mengembangkan talenta terbaik peserta didik madrasah.

“Sebuah kesuksesan tidak diraih dengan cara yang instan, tetapi melalui proses yang panjang. Menjadi juara adalah bonus dari proses perjuangan,” ujar Badruzaman saat membuka rakor.

Menurutnya, OMI 2026 diarahkan untuk mengidentifikasi, membina, mengembangkan, sekaligus mengakselerasi talenta peserta didik, terutama dalam bidang sains dan riset.Kompetisi ini juga dirancang untuk memperkuat budaya riset, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta inovasi di lingkungan madrasah.

Yang membedakan, OMI 2026 mengedepankan integrasi nilai-nilai keislaman dalam pengembangan sains dan riset. Peserta didik didorong melihat ilmu pengetahuan bukan hanya sebagai kemampuan akademik, tetapi juga bagian dari ibadah dan sarana pengembangan diri sesuai nilai-nilai Islam.

Budaya lokal turut mendapat ruang dalam kompetisi. Kearifan lokal diintegrasikan sebagai upaya memperkaya perspektif ilmiah sekaligus menjaga identitas budaya peserta didik.

Sementara itu, konsep Kurikulum Cinta dalam sains menjadi salah satu landasan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sekaligus membangun semangat eksplorasi yang berkelanjutan.

OMI 2026 mengusung tema “Islam, Sains, dan Ekoteologi: Menumbuhkan Talenta serta Menggerakkan Inovasi Madrasah untuk Indonesia Maju.”

Tema tersebut menegaskan arah OMI yang tidak berhenti pada pencapaian prestasi akademik. Kompetisi diarahkan untuk melahirkan inovator muda yang mampu mempertemukan nilai-nilai Islam, penguasaan sains, dan perspektif ekoteologi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.

281 Titik Jadi Ujian Kesiapan

OMI tingkat kabupaten/kota akan berlangsung secara online pada 7–8 September 2026. Sebanyak 281 tilok yang tersebar di kabupaten/kota se-Jawa Barat menjadi simpul penting pelaksanaan kompetisi.

Besarnya jumlah titik lokasi sekaligus menjadi tantangan tersendiri. Kesiapan perangkat, petugas, jaringan, serta sarana pendukung harus dipastikan agar tidak ada peserta yang dirugikan akibat persoalan teknis.

Badruzaman meminta seluruh penyelenggara di daerah memastikan kesiapan masing-masing tilok sebelum kompetisi dimulai.“Saya berharap pelaksanaannya berjalan lancar dan sukses, perangkat juga petugas di tiap tilok sudah dipersiapkan sehingga saat pelaksanaan tidak ada kendala dan menghasilkan murid-murid unggul berkualitas,” tegasnya.

Menurut Badruzaman, persiapan matang bukan semata untuk memastikan kompetisi berlangsung tertib. Lebih jauh, OMI harus mampu menjadi pintu masuk untuk menjaring peserta didik terbaik yang nantinya dapat mewakili Jawa Barat pada kompetisi tingkat provinsi hingga nasional.

Ia juga mengingatkan bahwa prestasi tidak lahir secara tiba-tiba. Pembinaan yang konsisten diperlukan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kematangan emosional dan spiritual.

Karena itu, OMI diharapkan tidak sekadar melahirkan peserta yang mampu meraih medali. Ajang ini harus menjadi ruang untuk membangun karakter kompetitif yang sehat, jujur, berintegritas, dan memiliki kemampuan riset serta inovasi.

Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, OMI menjadi momentum untuk mengembangkan bakat, minat, kecakapan, dan keahlian peserta didik di bidang sains dan riset. Dari ajang inilah diharapkan lahir bibit-bibit unggul yang mampu bersaing hingga tingkat internasional.

Badruzaman menilai keberhasilan peserta didik juga tidak terlepas dari keberhasilan kepala madrasah dalam mengembangkan potensi lembaganya. Semakin banyak prestasi yang ditorehkan, semakin kuat pula kepercayaan masyarakat terhadap madrasah.

Dengan demikian, 281 titik OMI di Jawa Barat bukan sekadar lokasi lomba. Setiap tilok diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda madrasah untuk mengasah kemampuan, membangun budaya riset, mengembangkan inovasi, sekaligus menunjukkan bahwa madrasah mampu melahirkan talenta yang kompetitif.

Melalui perpaduan Islam, sains, riset, dan inovasi, Kemenag Jabar mendorong OMI 2026 menjadi bagian dari ikhtiar mencetak sumber daya manusia unggul. Bukan hanya berprestasi di ruang kompetisi, tetapi juga mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan kemajuan Indonesia.

(Sumber: Kemenag Jabar/Novam Scorpiantrien)

Terima kasih atas komentar Anda. Ikuti terus update portal ini.