JOMBANG (Majalahukum.com) – Pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, diwarnai dugaan kekerasan fisik terhadap seorang pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).
Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, membenarkan adanya pengurus PCNU yang disebut menjadi korban dugaan pemukulan. Menurut Gus Salam, korban telah menjalani pemeriksaan medis dan visum sebagai bagian dari proses pelaporan kepada kepolisian.
“Ada salah satu teman kami dari daerah yang itu mengalami kekerasan oleh PWNU-nya, dan juga sudah dilaporkan ke polisi, Polres Jombang. Sebabnya karena mereka tidak mengikuti arahan Ahwa oleh PWNU-nya,” ujar Gus Salam dalam konferensi pers, Sabtu (29/8/2026).
Gus Salam menyebut dugaan pemukulan tersebut mengenai bagian kiri wajah korban. Peristiwa itu, kata dia, telah dilaporkan kepada Polres Jombang dan kini diproses melalui jalur hukum.
“Tadi malam datang ke sini, dan ini tadi sudah visum. Dan kejadian ini patut dikecam. Ada kekerasan di tengah-tengah muktamar ini sangat memprihatinkan. Dipukuli, itu pengurus PC, dan kejadiannya di Jombang,” katanya.
Gus Salam belum mengungkap identitas korban maupun pihak yang diduga terlibat. Ia menyatakan pihaknya menyerahkan proses penanganan perkara tersebut kepada kepolisian.
Dinamika Pemilihan Ketum PBNU Memanas
Menurut Gus Salam, dugaan kekerasan tersebut terjadi di tengah dinamika pemilihan Ketua Umum PBNU yang semakin memanas.
Perbedaan pandangan muncul terkait mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Sebagian pihak menginginkan pemilihan dilakukan melalui pemungutan suara secara langsung, sementara kelompok lainnya mendorong penggunaan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).
Gus Salam menilai perbedaan pilihan mengenai mekanisme pemilihan tersebut kemudian berkembang menjadi dugaan tekanan terhadap sejumlah utusan dari daerah.
Ia juga menuding adanya oknum pimpinan PWNU yang diduga memberikan tekanan kepada muktamirin yang tidak mengikuti arahan terkait sistem Ahwa.
“Akibat tekanan konflik tajam PBNU di daerah Muktamar, terdapat intimidasi struktural atas nama kuasa PBNU, kepanitiaan dan atau pejabat negara terjadi masif di Muktamar,” ujar Gus Salam.
Soroti Dugaan Tekanan Psikologis Muktamirin
Selain dugaan kekerasan fisik, Gus Salam turut menyoroti dugaan tekanan psikologis yang dialami sejumlah muktamirin.
Ia menyebut peserta yang berasal dari PCNU, PWNU, hingga Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) luar negeri diduga mengalami tekanan akibat adanya praktik karantina.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi psikologis peserta dan mengganggu proses permusyawaratan dalam forum tertinggi organisasi NU.
“Karantina yang disertai dengan berbagai upaya-upaya yang tidak baik, yang dilakukan secara struktural dan berlebihan, tidak hanya menciptakan luka tapi juga membuat trauma dan juga membebani psikologis. Dan ini juga diketahui dan dirasakan oleh para masyayikh,” tuturnya.
Gus Salam Serukan Rekonsiliasi Internal NU
Gus Salam menilai dugaan kekerasan dan tekanan terhadap peserta merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-35.
Ia menegaskan, forum permusyawaratan organisasi semestinya berlangsung secara santun, demokratis, dan tetap menjunjung tinggi adab.
Di tengah dinamika tersebut, Gus Salam menyatakan komitmennya untuk mendorong rekonsiliasi internal NU. Menurutnya, rekonsiliasi diperlukan untuk mengembalikan marwah organisasi serta menjaga independensi dalam setiap proses pengambilan keputusan.
“Saya Abdussalam Shohib dalam muktamar ini tidak hanya diperintah masyayikh, kiai sepuh NU pesantren untuk berikhtiar menjadi pemimpin PBNU dengan cara santun dan beradab, juga berbenah untuk misi mengembalikan marwah NU, ulama serta melakukan rekonsiliasi total dalam khidmah berjamaah NU dan ber-NKRI,” pungkasnya.
(Red)








