Masjid bukan sekadar bangunan tempat umat Islam melaksanakan salat. Masjid adalah rumah bersama, pusat pembinaan umat, ruang pendidikan, sekaligus tempat tumbuhnya generasi masa depan. Karena itu, masa depan masjid sesungguhnya sangat ditentukan oleh sejauh mana masjid hari ini mampu menghadirkan dirinya sebagai tempat yang dekat, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak.
Di pedesaan, masjid memiliki posisi yang sangat strategis. Hampir setiap kampung memiliki masjid atau musala yang menjadi pusat kehidupan keagamaan masyarakat. Dari masjid terdengar azan, berlangsung pengajian, pendidikan Al-Qur’an, kegiatan Ramadan, hingga berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan.
Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apakah anak-anak merasa masjid adalah rumah mereka juga?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat besar.
Selama ini, sebagian kita masih melihat anak di masjid dengan kacamata kekhawatiran. Anak dianggap mudah gaduh, berlari, bercanda, atau mengganggu kekhusyukan jamaah. Akibatnya, tanpa disadari, masjid menjadi ruang yang terasa penuh larangan bagi anak.
Padahal, anak-anak memang sedang belajar mengenal dunia. Mereka belum memiliki kemampuan mengendalikan diri seperti orang dewasa. Jika sejak kecil mereka dibiasakan datang ke masjid, mengenal imam, bertemu jamaah, belajar Al-Qur’an, dan merasakan suasana persaudaraan di masjid, maka pengalaman itu akan menjadi bagian penting dari pembentukan karakter mereka.
Masjid ramah anak bukan berarti masjid kehilangan kesakralannya. Sebaliknya, masjid justru sedang menyiapkan generasi yang kelak akan menjaga kesucian, kemakmuran, dan keberlanjutan masjid.
Jangan sampai kita terlalu sibuk menjaga ketenangan masjid hari ini, tetapi kehilangan generasi yang akan mengisinya di masa depan.
Masjid Pedesaan Harus Menjadi Ruang Tumbuh dan berkembang untuk anak anak. Mereka adalah aset masa depan yang perlu mendapatkan sentuhan energi masjid.
Masjid di desa mempunyai keunggulan yang tidak selalu dimiliki masjid di perkotaan. Hubungan sosial masyarakat relatif lebih dekat. Takmir mengenal jamaah, orang tua mengenal guru mengaji, dan anak-anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang saling mengenal.
Modal sosial tersebut harus dikembangkan menjadi ekosistem masjid yang ramah anak.
Masjid dapat menyediakan kegiatan sederhana tetapi konsisten: tadarus anak, taman pendidikan Al-Qur’an, kajian anak dan remaja, permainan edukatif Islami, perpustakaan kecil, kegiatan Ramadan, lomba keagamaan, bakti sosial, hingga kegiatan kebersihan lingkungan masjid.
Tidak semuanya membutuhkan anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah kemauan, kreativitas, dan kesediaan orang dewasa untuk memberikan ruang kepada anak-anak.
Masjid juga dapat menjadi tempat anak belajar kepemimpinan. Anak-anak bisa dilibatkan dalam kegiatan kebersihan, pengelolaan acara, pembacaan doa, menjadi pembawa acara sederhana, atau kegiatan sosial. Dengan demikian, mereka tidak hanya diajari tentang masjid, tetapi juga diberi pengalaman memiliki masjid.
Mengubah Cara Pandang Orang Dewasa
Mewujudkan masjid ramah anak pada akhirnya bukan hanya persoalan menyediakan fasilitas. Lebih jauh dari itu, diperlukan perubahan cara pandang orang dewasa. Mereka agar memiliki pandangan yang sama terhadap kehadiran anak anak di masjid. Jangan sampai yang dimunculkan stigmatisasi negatif terhadap anak yang ramai dan mengganggu kekhusyukan ibadah.
Ketika seorang anak berlari di halaman masjid, jangan selalu melihatnya sebagai gangguan. Bisa jadi, ia sedang menemukan kegembiraan pertamanya bersama masjid.
Ketika anak-anak datang berkelompok, jangan buru-buru mengusir mereka. Justru arahkan mereka dengan pendekatan yang mendidik.
Tentu saja, anak tetap harus diajarkan adab masjid. Ramah anak bukan berarti membiarkan segala perilaku tanpa batas. Anak perlu dibimbing agar memahami kebersihan, kesopanan, ketenangan saat salat, dan penghormatan terhadap jamaah.
Tegas boleh, tetapi jangan kasar. Mendidik boleh, tetapi jangan menakut-nakuti. Sehingga menjadikan anak jauh dari masjid.
Di sinilah pentingnya keteladanan para takmir, ustaz, imam, orang tua, dan seluruh jamaah sangat dibutuhkan. Dengan demikian mereka akan merasakan nyaman dan bahagia di masjid.
Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi digital, anak-anak pedesaan juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Gawai, media sosial, permainan digital, dan berbagai konten internet telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat anak belajar membaca Al-Qur’an, kemudian membiarkan pembentukan karakter mereka berlangsung sepenuhnya di luar masjid.
Anak-anak membutuhkan tempat untuk bertanya, berdiskusi, bermain, belajar agama, belajar teknologi secara bijak, dan membangun pertemanan yang sehat. Masjid dapat menjadi ruang tersebut.
Dengan demikian, masjid tidak hanya membentuk anak yang mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga anak yang memiliki akhlak, kepedulian sosial, disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan kecintaan kepada lingkungan.
Dari Masjid untuk Generasi Masa Depan
Gerakan masjid ramah anak seharusnya menjadi bagian dari agenda besar memakmurkan masjid. Dewan Masjid Indonesia (DMI), takmir masjid, pemerintah desa, lembaga pendidikan, madrasah, pesantren, TPQ, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dapat membangun kolaborasi.
Masjid ramah anak dapat dimulai dari hal-hal sederhana:
- Menyambut anak dengan senyum dan keramahan.
-
Menyediakan ruang atau area kegiatan anak yang aman dan nyaman.
-
Membuat program pendidikan dan kreativitas anak secara rutin.
-
Melibatkan remaja masjid sebagai pendamping dan mentor.
-
Mengajarkan adab masjid dengan pendekatan kasih sayang.
-
Melibatkan orang tua dalam pembinaan anak.
-
Membangun lingkungan masjid yang bersih, sehat, aman, dan inklusif.
Yang paling penting, semua itu dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Masjid yang Dicintai Anak Akan Dicintai Generasi Berikutnya
Kita tentu berharap masjid di pedesaan tidak hanya ramai pada Ramadan atau ketika ada salat Jumat. Kita ingin masjid menjadi pusat kehidupan umat sepanjang waktu.Oleh karena itu keterlibatan kompone masyarakat untuk bersama menggerakkan agar anak anak ke masjid menjadi sangat penting.
Untuk itu, kita harus menanam kecintaan kepada masjid sejak usia dini. Agar rasa cinta yang terpatri dalam hatinya memiliki dampak yang positif untuk masa depan masjid.
Anak yang hari ini datang ke masjid bersama ayahnya, belajar mengaji bersama teman-temannya, bermain di halaman masjid, dan mendapatkan senyum dari para jamaah, kelak akan memiliki kenangan yang kuat tentang masjid.
Ketika dewasa, ia akan kembali. Ia mungkin menjadi imam, takmir, guru mengaji, pengurus remaja masjid, atau tokoh masyarakat. Bahkan mungkin menjadi orang yang membangun masjid yang lebih baik bagi generasi sesudahnya.
Maka, masjid ramah anak sesungguhnya bukan sekadar program pelayanan anak. Ia adalah investasi peradaban yang akan menjadikan generasi tumbuh kesadaran semangat beribadah dan memakmurkan masjid.
Dari desa, kita bisa memulai gerakan itu. Dari masjid-masjid kecil di tengah kampung, kita menanam benih generasi yang mencintai agama, mencintai masjid, dan mencintai masyarakat. Dulu masih banyak masjid di desa yang tiap malam ramai dengan anak anak bahkan sampai menginap.
Sebab masjid yang hari ini membuka pintunya dengan ramah kepada anak-anak, sesungguhnya sedang membuka pintu masa depan bagi umat. Sementara banyak kita jumpai di beberapa masjid masih yang kurang bersahabat dengan anak anak.. Misalnya ada pesan dari tokoh setempat, agar anak anak sholat jamaahnya di luar ruang utama. Atau pesan lain yang sejenis dengan subtansi mempersempit gerak anak di masjid.
Mari kita wujudkan masjid pedesaan yang tidak hanya megah bangunannya, tetapi juga hangat suasananya; tidak hanya ramai jamaah dewasa, tetapi juga dicintai anak-anak dan remaja. Hal ini sangat penting, mengingat saat ini banyak orang pedesaan yang semangat membangun masjid yang megah dengan biaya milyaran. Disaat yang sama tidak memiliki konsep membangun generasi yang memakmurkan masjid.
Karena sesungguhnya memakmurkan masjid hari ini berarti menyiapkan generasi yang akan memakmurkan masjid esok hari. Mereka yang akan menjadi penerus untuk memakmurkan masjid. (*)








